“Waktu saya kelas dua SMA tahun 2013, saya mulai suka sekali dengan dunia DJ. Saya sering lihat video penampilan DJ dan tertarik bagaimana mereka memainkan musik. Dari situ saya mulai ingin belajar,” ujar Ray.
Namun keinginan besar itu tidak langsung didukung dengan fasilitas yang memadai. Pada masa tersebut, Ray belum memiliki alat DJ seperti controller, mixer, maupun perangkat pendukung lainnya. Keterbatasan ekonomi dan akses menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya yang saat itu masih berstatus pelajar.
Meski demikian, Ray tidak menyerah. Ia memilih mencari cara lain agar tetap bisa belajar. Teknologi digital yang mulai berkembang saat itu menjadi jalan baginya untuk mengenal dunia DJ lebih dalam. Ia mulai mengunduh berbagai aplikasi DJ di telepon genggam dan komputer untuk berlatih secara mandiri.
“Saya belum punya alat sama sekali waktu itu. Jadi saya belajar dari aplikasi yang saya download sendiri. Saya coba-coba mixing lagu, belajar tempo, beat, transisi lagu, semuanya dari aplikasi,” katanya.














