Opini

Ketika Bantuan Negara Dijadikan Alat Pungutan

Reporter: AB |  Editor: Redaksi
ketika-bantuan-negara-dijadikan-alat-pungutan
Ketika Bantuan Negara Dijadikan Alat Pungutan

Suara kegelisahan ini datang dari anak-anak muda daerah. Mereka yang tumbuh di tengah keterbatasan desa, menyaksikan orang tua mereka bertaruh dengan musim, tanah, dan cuaca. Bagi generasi ini, pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan identitas dan harga diri. Ketika bantuan negara diselewengkan, luka itu bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga oleh mereka yang masih percaya bahwa negara bisa berlaku adil.

Ada dimensi moral yang tak boleh diabaikan. Memungut biaya dari penerima bantuan—jika benar terjadi—berarti menempatkan masyarakat kecil pada posisi yang tidak setara. Mereka dipaksa memilih antara menerima bantuan dengan syarat tertentu atau menolak dan kembali bergulat dengan keterbatasan. Dalam situasi seperti ini, bantuan kehilangan maknanya sebagai instrumen keadilan sosial.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Lebih jauh, praktik semacam ini berpotensi menciptakan preseden berbahaya. Jika hari ini alsintan dikenai pungutan, besok bisa saja bantuan bibit, pupuk, bahkan program sosial lainnya mengalami nasib serupa. Negara perlahan berubah wajah: dari pelindung menjadi penekan, dari penopang menjadi beban.

Exit mobile version