Petani menghadapi perubahan musim dan keterbatasan air. Nelayan berhadapan dengan cuaca ekstrem dan perubahan kondisi laut. Masyarakat adat menghadapi tekanan terhadap wilayah kelola, sementara perempuan dapat menanggung beban lebih besar ketika akses terhadap air, pangan dan sumber penghidupan semakin sulit.
Karena itu, bencana ekologis tidak cukup dilihat hanya sebagai fenomena alam. Cara ruang dikelola, sumber daya alam dimanfaatkan dan pembangunan direncanakan turut menentukan tingkat risiko yang dihadapi masyarakat.
Tapak Hari Ini, Warisan untuk Generasi Mendatang
Tema “Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi” menempatkan pengalaman masyarakat di lapangan sebagai titik awal perjuangan ekologis.
Tapak adalah jejak petani, nelayan, masyarakat adat, perempuan dan orang muda yang terus mempertahankan ruang hidupnya.
Tapak juga menjadi rekam jejak perjuangan masyarakat sipil dalam menghadapi kebijakan dan izin pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat.












