“Kami meminta Pertamina segera mengembalikan situasi seperti semula. Pemerintah Provinsi siap berkolaborasi dengan seluruh pihak agar distribusi BBM kembali normal,” tegasnya.
Ketua DPC Hiswana Migas Sumut, Rajali Husein, mengatakan seluruh SPBU di jalur lintas Sumatera telah diminta beroperasi selama 24 jam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun demikian, antrean panjang di lapangan masih terjadi dan bahkan memicu gesekan antar konsumen.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Bidang SPBU Hiswana Migas Sumut, Indah Sari Karo-karo. Menurutnya, krisis pengemudi mobil tangki menjadi penyebab utama terganggunya distribusi BBM. Karena itu, dukungan TNI dan Polri sangat dibutuhkan agar proses distribusi berjalan aman serta terhindar dari penyimpangan.
Sementara itu, Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak menilai situasi antrean BBM memiliki karakteristik yang hampir menyerupai penanganan bencana, seperti saat banjir maupun pemadaman listrik berskala besar yang pernah terjadi di Sumatera.
Di Kota Medan sendiri, yang memiliki 91 SPBU, jajaran Polrestabes telah menempatkan mobil patroli berlampu biru di sejumlah SPBU yang mengalami antrean panjang guna menjaga keamanan sekaligus mengurai kemacetan lalu lintas.
