Dari Bahan Mentah Menjadi Produk Bernilai
Melki menekankan bahwa pembangunan ekonomi NTT tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi.
Hasil pertanian, peternakan, kehutanan, maupun kelautan harus mendapatkan nilai tambah.
“Inilah arah Asta Cita Pertama: membangun rantai ekonomi dari hulu ke hilir, agar hasil ladang, peternakan, dan hasil laut tidak berhenti sebagai bahan mentah, melainkan menjadi produk bernilai tambah yang menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah mendorong program One Village One Product (OVOP).
Melalui pendekatan tersebut, setiap desa didorong mengembangkan produk unggulan berbasis potensi lokal.
Pengembangan mencakup kualitas produk, pengolahan, kemasan, legalitas, hingga pemasaran.
Hingga Juni 2026, pelatihan telah menjangkau kelompok usaha di Timor, Rote Ndao, Sabu, dan diperluas ke klaster Ende, Sikka, Manggarai Raya, serta wilayah NTT lainnya.
Koperasi dan UMKM
Penguatan ekonomi desa juga dilakukan melalui kelembagaan ekonomi.
Hingga April 2026, pemerintah mencatat telah terbentuk 3.232 Koperasi Desa Kelurahan Melati (KDKM) di desa dan kelurahan di NTT.














