“Kondisi lingkungan laut yang memburuk, baik akibat aktivitas manusia maupun perubahan iklim, sangat berpotensi memengaruhi pola migrasi paus hingga menyebabkan mereka tersesat atau terdampar,” jelasnya.
Kolaborasi untuk Pelestarian Mamalia Laut
Keberhasilan penyelamatan ini menjadi salah satu contoh kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait dalam melestarikan satwa laut.
BBKSDA NTT berharap masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan laut, khususnya dalam menjaga kualitas perairan dari pencemaran.
“Ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu paus, tetapi menjaga ekosistem laut yang merupakan habitat mereka,” kata Arief menutup pernyataan.
Upaya penyelamatan ini pun menuai apresiasi dari berbagai pihak, mengingat paus yang terdampar sering kali menghadapi risiko besar, termasuk kematian akibat dehidrasi, luka, atau kesulitan kembali ke habitatnya.
Dengan kerja keras dan koordinasi semua pihak, paus jumbo ini dapat kembali ke habitat alaminya. Namun, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kesehatan laut dari aktivitas manusia dan dampak perubahan iklim.














