Menurut Aloysius, jalur di Dusun Abat merupakan akses vital yang digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas, mulai dari mobilitas antarwilayah, distribusi hasil pertanian, hingga akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Karena itu, kerusakan jalan dinilai bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat serta kelancaran aktivitas ekonomi warga di dua kabupaten tersebut.
Ia pun mendesak Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur agar segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi jalan sebelum terjadi kecelakaan yang lebih serius.
“Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi keselamatan masyarakat. Kami berharap pemerintah provinsi segera memperhatikan kondisi jalan ini karena menjadi jalur penghubung penting antara Belu dan Malaka,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah warga yang berharap pemerintah tidak menunda perbaikan infrastruktur di wilayah tersebut. Mereka menilai kondisi jalan yang rusak dapat menghambat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.














