Penampilan mereka semakin kuat dengan identitas khas jas merah maroon, kemeja putih, dasi hitam, dan celana hitam, yang memberi kesan elegan, rapi, dan penuh wibawa dalam pelayanan gereja. Visual yang tertata dan vokal yang terlatih berpadu menjadi satu kesatuan yang memperkuat makna pelayanan itu sendiri.
Di balik penampilan yang memukau tersebut, berdiri sosok instruktur sekaligus pembina, Ibu Emilia Seran Wilik, guru SDN Sekutren Haekesak, yang menjadi motor penggerak dalam perjalanan panjang pembentukan hingga pemantapan paduan suara ini.
Ia menuturkan bahwa proses ini tidak lahir secara instan. Awalnya hanya beberapa orang yang bergabung dalam latihan, dengan berbagai keterbatasan dan dinamika kehadiran. Namun melalui ketekunan, pendekatan hati ke hati, serta kesabaran dalam proses, perlahan terbentuklah 23 personil yang akhirnya tampil pada momen besar ini.
“Setiap orang yang mau besar harus siap berproses,” menjadi prinsip yang terus mengiringi perjalanan pembinaan ini.
Koordinator paduan suara, Wilfridus Leki, menegaskan bahwa nama “Algonz” diambil dari Santo Pelindung mereka, Santo Aloysius Gonzaga, sebagai inspirasi pelayanan yang rendah hati, setia, dan tanpa pamrih.














