Ia menjelaskan bahwa tubuh perempuan sering kali menjadi arena pertemuan antara resiliensi, diskriminasi, dan eksploitasi. Di tengah berbagai krisis yang berlangsung, perempuan dituntut untuk terus bertahan dan menjaga keberlangsungan kehidupan keluarga maupun komunitas, tetapi pada saat yang sama mereka menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan yang membatasi hak dan kebebasan mereka.
Linda juga menyoroti bagaimana ekspresi perempuan kerap menjadi sasaran penghinaan, stigmatisasi, hingga pembungkaman. Pengetahuan dan pengalaman perempuan pun sering dipandang sebelah mata oleh sistem patriarki yang masih kuat mengakar dalam berbagai ruang pengambilan keputusan.
Akibatnya, suara perempuan, termasuk ketika mereka menyuarakan penolakan terhadap proyek-proyek yang mengancam tanah, air, pangan, dan ruang hidup, kerap dianggap sebagai hambatan bagi pembangunan. Padahal, menurut Linda, pengalaman dan pengetahuan perempuan merupakan bagian penting dalam merumuskan kebijakan yang adil dan berkelanjutan.
