Namun di tengah kerentanan tersebut, berbagai proyek pembangunan yang mengatasnamakan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi terus diperluas. Hori menyoroti pembangunan infrastruktur skala besar, pariwisata berbasis investasi, perkebunan monokultur, pertambangan mineral dan batu bara, tambang ilegal, proyek panas bumi, hingga industri tambak garam yang dinilai semakin mengepung ruang hidup masyarakat.
Menurutnya, ekspansi investasi tersebut justru berbanding terbalik dengan janji kesejahteraan yang selama ini disampaikan. Pembangunan ekstraktif, kata Hori, tidak hanya gagal menjawab akar persoalan krisis iklim, tetapi juga memperparah kerusakan ekologis, mempersempit akses masyarakat terhadap tanah dan air, serta meningkatkan kerentanan kelompok yang berada di garis depan krisis, terutama perempuan.
Pandangan kritis juga disampaikan pembicara ketiga, Linda Tagie dari Solidaritas Perempuan Flobamoratas. Dalam paparannya, Linda membedah berbagai bentuk perlawanan perempuan yang menurutnya hadir melalui empat dimensi utama, yakni ekspresi, tubuh, pikiran, dan hasil kerja perempuan.
