Webiner Hari Lingkungan Hidup 2026: Alarm Krisis Iklim, Perspektif Feminis atas Pembangunan, Transisi Energi, dan Masa Depan Ruang Hidup di NTT
KUPANG, Reformanews.com – Krisis iklim di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan lagi sekadar persoalan perubahan cuaca atau meningkatnya frekuensi bencana alam. Di balik kekeringan yang berkepanjangan, krisis air bersih, menurunnya produktivitas pertanian, hingga kerawanan pangan yang semakin meluas, tersimpan persoalan yang lebih mendasar, yakni ketidakadilan sosial dan gender yang terus membebani kehidupan perempuan.
Perubahan pola musim yang tidak menentu telah memaksa banyak keluarga mencari berbagai cara untuk bertahan hidup. Dalam situasi tersebut, perempuan menjadi pihak yang menanggung beban paling besar. Mereka tidak hanya bertanggung jawab memastikan kebutuhan pangan dan air bagi keluarga tetap terpenuhi, tetapi juga menghadapi risiko migrasi yang sering kali membuka ruang terhadap eksploitasi dan berbagai bentuk kekerasan.
Di saat yang sama, berbagai proyek pembangunan dan investasi ekstraktif terus memperluas penguasaan atas tanah, air, dan sumber daya alam. Ironisnya, proses tersebut kerap berlangsung tanpa memastikan partisipasi bermakna dari masyarakat terdampak, khususnya perempuan. Atas nama pembangunan dan transisi energi, ruang hidup masyarakat semakin terdesak, konflik agraria meningkat, sementara kerusakan ekologis terus terjadi.
