Berita

Webiner Hari Lingkungan Hidup 2026: Alarm Krisis Iklim, Perspektif Feminis atas Pembangunan, Transisi Energi, dan Masa Depan Ruang Hidup di NTT

Reporter: Amor |  Editor: Admin
Webiner Hari Lingkungan Hidup 2026: Alarm Krisis Iklim, Perspektif Feminis atas Pembangunan, Transisi Energi, dan Masa Depan Ruang Hidup di NTT

Pembicara pertama, Magdalena Eda Tukan dari Koalisi Kopi, menyoroti situasi perempuan di Flores Timur dalam menghadapi krisis iklim. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan melalui pengelolaan benih lokal yang adaptif dan diwariskan secara turun-temurun.

Eda menilai agenda transisi energi berskala industri yang kini berkembang di Pulau Flores berpotensi mengancam ruang hidup perempuan apabila dijalankan tanpa pelibatan masyarakat secara bermakna. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Flores Timur, terutama perempuan, hingga kini masih berjuang menghadapi dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Dalam kondisi krisis yang berlapis tersebut, perempuan harus memikul beban ganda, mulai dari memastikan ketersediaan pangan, memenuhi kebutuhan air keluarga, hingga menjaga keberlangsungan kehidupan komunitas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Sementara itu, pembicara kedua, Horiana Yolanda dari WALHI NTT, menegaskan bahwa NTT saat ini berada dalam cengkeraman krisis iklim yang semakin diperparah oleh ekspansi pembangunan ekstraktif. Ia menjelaskan bahwa kondisi geografis NTT yang berada di kawasan Ring of Fire, terdiri atas pulau-pulau kecil, memiliki curah hujan rendah, serta didominasi bentang alam karst dan savana menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap berbagai bencana ekologis.

Exit mobile version