Dalam irama tebe bei mau sali, langkah kaki saling berbalas, membentuk harmoni yang hidup. Kapolres Malaka tak hanya menyaksikan, tetapi ikut menari bersama masyarakat. Geraknya mungkin sederhana, namun sarat makna—sebuah bahasa tanpa kata bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu merendah, menyatu, dan berjalan seirama dengan rakyatnya.
Setiap hentakan kaki di tanah Kamanasa bukan sekadar gerakan, melainkan pesan yang dalam. Di dalam lingkaran itu, sekat antara pemimpin dan rakyat luluh tanpa sisa. Yang ada hanyalah kebersamaan yang tulus, rasa saling percaya yang tumbuh, dan tekad untuk menjaga budaya yang telah menjadi jati diri masyarakat Malaka.
Di bawah naungan rumah adat, perempuan duduk berjejer dengan kain tenun yang anggun, sementara para lelaki berdiri tegap dengan ikat kepala tradisional yang penuh makna. Cahaya matahari yang menembus sela-sela atap ilalang seakan menjadi saksi bahwa budaya di tanah ini bukan hanya dikenang, tetapi benar-benar hidup—berdenyut dalam setiap aktivitas masyarakat.
Lebih dari sekadar kehadiran, gaya kepemimpinan Riki Ganjar Gumilar hari itu memancarkan wajah polisi yang humanis.














