Menurut Agustinus, kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat, terlebih pada hari itu jumlah pengunjung cukup banyak. Sebagian besar warga yang hadir merupakan siswa dan orang tua penerima Program Indonesia Pintar (PIP), serta nasabah yang melakukan transaksi perbankan lainnya.
Ia menilai manajemen pelayanan perlu dievaluasi agar waktu istirahat pegawai tidak menghambat pelayanan kepada masyarakat yang telah menunggu sejak pagi hari.
“Kami memahami pegawai juga membutuhkan waktu untuk makan siang. Tetapi pelayanan kepada masyarakat juga harus diperhatikan. Jangan sampai masyarakat menunggu berjam-jam tanpa kepastian. Ini sangat mengecewakan,” tegasnya.
Agustinus berharap pihak manajemen BRI dapat memperbaiki sistem pelayanan, terutama pada saat terjadi lonjakan jumlah nasabah. Menurutnya, perlu ada pengaturan jadwal istirahat yang bergantian sehingga pelayanan tetap berjalan dan masyarakat tidak harus menunggu terlalu lama.
Keluhan serupa, kata dia, juga disampaikan beberapa pengunjung lain yang berada di lokasi. Mereka berharap pelayanan perbankan dapat dilakukan lebih cepat dan profesional mengingat BRI merupakan salah satu bank milik negara yang melayani masyarakat hingga ke pelosok daerah.














