Romo Yonathas menunjukkan bahwa kepedulian terhadap pendidikan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Kehadirannya dalam LKTD tidak hanya sebagai pemateri yang memberikan pembinaan kepada para calon pemimpin muda, tetapi juga melalui dukungan terhadap kegiatan produktif yang dapat menjadi ruang belajar dan pengembangan potensi siswa.
Kelompok tenun tersebut diharapkan menjadi wadah bagi para siswi untuk belajar bekerja bersama, membangun tanggung jawab, mengembangkan kreativitas sekaligus mempertahankan warisan budaya lokal.
Tenun bukan sekadar benang yang dirangkai menjadi kain. Di dalamnya ada ketekunan, kesabaran, identitas budaya dan nilai ekonomi. Karena itu, ketika siswa diberi kesempatan untuk belajar menenun, sesungguhnya mereka sedang diajak belajar tentang kehidupan dan kemandirian.
Dukungan Romo Yonathas juga mempertegas bahwa pendidikan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah memiliki tugas mendidik, keluarga membentuk karakter, sementara masyarakat dan Gereja dapat menjadi kekuatan pendukung agar potensi anak-anak muda berkembang secara utuh.














