Sorotan utama diarahkan kepada SD Paralel Lailara di Desa Praibakul, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur.
Sekolah sederhana itu hanya berukuran sekitar 12 x 6 meter, berdinding bambu, beratap seng, dan masih berlantai tanah. Meja belajar, kursi, hingga papan tulis sebagian masih dipinjam dari sekolah lain, sementara sejumlah fasilitas lainnya telah mengalami kerusakan.
Kondisi semakin memprihatinkan karena sekolah tersebut belum didukung akses listrik yang memadai, jaringan internet yang stabil, maupun rumah dinas bagi para guru. Bahkan bangunan sekolah itu berdiri berkat gotong royong dan swadaya orang tua murid yang ingin memastikan anak-anak mereka tetap memperoleh pendidikan.
Bagi Sandiang, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang harus berjuang lebih keras hanya untuk memperoleh hak dasar mereka.
“Anak-anak di pelosok tidak boleh kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota. Mereka juga anak Indonesia, mereka juga punya mimpi dan berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar Sandiang.














