“Benar, sekolah kami memang masih berdinding bebak. Sarana dan prasarana juga masih minim,” ungkap Hildigardis kepada Reformanews.com.
Lebih memprihatinkan lagi, kata Hildigardis, sekolah yang dipimpinnya hingga kini belum memiliki fasilitas WC. Akibatnya, para siswa terpaksa pergi ke hutan di sekitar sekolah ketika hendak buang air.
Kondisi tersebut tentu menjadi ironi di dunia pendidikan. Ketiadaan fasilitas sanitasi bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi juga menyangkut kesehatan, kebersihan lingkungan, keamanan siswa, dan penghormatan terhadap hak-hak dasar anak untuk memperoleh lingkungan belajar yang layak.
Di sisi lain, ruang belajar yang masih berdinding bebak menunjukkan bahwa sekolah tersebut masih menghadapi keterbatasan infrastruktur yang membutuhkan perhatian serius. Di tengah berbagai program pembangunan pendidikan, masih adanya sekolah dengan kondisi seperti ini menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari proses belajar mengajar, tetapi juga dari tersedianya fasilitas dasar yang mendukung tumbuh kembang peserta didik. Ruang kelas yang layak, air bersih, dan toilet merupakan kebutuhan mendasar yang seharusnya dimiliki setiap sekolah.














