Justitia di Ujung Tanjung Kerangan
Opini, Di ujung utara Labuan Bajo, Tanjung Kerangan berdiri tenang menghadap laut Flores. Dari kejauhan, kawasan ini tampak menjanjikan: lanskap eksotis, nilai tanah meroket, dan masa depan pariwisata kelas dunia. Namun di balik panorama itu, hukum sedang diuji—bukan oleh gelombang laut, melainkan oleh tumpukan dokumen pertanahan yang saling bertabrakan.
Sengketa tanah di Kerangan bukan perkara biasa. Ia adalah potret telanjang dari konflik antara keadilan substantif dan legalitas administratif. Di satu sisi, sertifikat dan gambar ukur yang terbit dari kantor negara. Di sisi lain, warga lokal yang memegang sejarah penguasaan tanah turun-temurun. Di antara keduanya, Justitia—dewi keadilan—ditarik ke ujung tanjung.
Sejak Labuan Bajo ditetapkan sebagai kawasan strategis pariwisata nasional, konflik pertanahan meningkat tajam. Tanah yang dulu dipandang biasa, tiba-tiba berubah menjadi komoditas emas. Dalam fase gold rush inilah, praktik mafia tanah menemukan momentumnya: memanfaatkan arsip yang lemah, verifikasi yang longgar, serta jarak sosial antara pemilik tanah adat dan pusat pengambilan keputusan.














