Maka, di Hari Kartini ini, pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah kita benar-benar menghargai perempuan?
Jika jawabannya iya, maka hentikan kekerasan. Lindungi perempuan. Dengarkan korban. Tegakkan hukum. Dan pastikan semangat Kartini hidup, bukan hanya dalam perayaan, tetapi dalam keberanian melawan ketidakadilan.
Karena perempuan tidak hanya membutuhkan ucapan “Selamat Hari Kartini.”
Mereka membutuhkan rasa aman, keadilan, dan keberpihakan yang nyata.
Itulah makna sejati memperingati Hari Kartini.onisnya, banyak kasus tidak sampai ke proses hukum karena dianggap sebagai “urusan keluarga” yang cukup diselesaikan secara internal. Padahal, kekerasan merupakan tindak pidana dan pelanggaran hak asasi manusia.
Budaya diam menjadi salah satu akar persoalan. Banyak korban memilih bungkam karena takut disalahkan, dipermalukan, kehilangan dukungan ekonomi, atau mendapat ancaman dari pelaku. Dalam beberapa kasus, korban justru dianggap membawa aib keluarga. Akibatnya, luka dipendam dan keadilan tertunda.
