Merayakan Hari Kartini di tengah meningkatnya kekerasan tanpa tindakan nyata adalah sebuah ironi. Kita memuliakan nama Kartini, tetapi mengabaikan penderitaan perempuan masa kini.
Kartini pernah bermimpi agar perempuan Indonesia hidup bermartabat, cerdas, dan merdeka. Namun bagi banyak korban kekerasan, kemerdekaan itu belum sepenuhnya hadir.
Selama masih ada anak perempuan yang menjadi korban, selama masih ada perempuan yang mengalami kekerasan, dan selama masih ada suara yang dibungkam, maka perjuangan Kartini belum selesai.
Hari Kartini harus menjadi pengingat bahwa emansipasi bukan hanya soal kesempatan, tetapi juga tentang hak untuk hidup aman dan bebas dari kekerasan.
Perempuan tidak cukup dihormati dalam kata-kata, tetapi harus dilindungi dalam tindakan nyata.
Maka, di Hari Kartini ini, pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah kita benar-benar menghargai perempuan?
Jika jawabannya iya, maka hentikan kekerasan. Lindungi perempuan. Dengarkan korban. Tegakkan hukum. Dan pastikan semangat Kartini hidup, bukan hanya dalam perayaan, tetapi dalam keberanian melawan ketidakadilan.
