Dalam situasi seperti ini, proses pengambilan keputusan menjadi kurang optimal. Kebijakan yang dihasilkan berpotensi tidak sepenuhnya mencerminkan kebutuhan masyarakat, karena minimnya masukan yang kritis dan konstruktif.
Selain itu, ketergantungan pada dukungan yang bersifat oportunistik juga membuat posisi pemimpin menjadi rentan. Ketika situasi politik berubah, mereka yang sebelumnya memberikan dukungan bisa dengan mudah berpaling. Stabilitas yang dibangun di atas loyalitas semu cenderung tidak bertahan lama.
Fenomena penjilat dan kutu loncat juga mencerminkan adanya persoalan yang lebih mendasar dalam budaya politik. Konsistensi nilai, integritas, dan komitmen terhadap kepentingan publik belum sepenuhnya menjadi landasan utama dalam berpolitik. Selama orientasi masih didominasi oleh kepentingan jangka pendek, maka pola perilaku seperti ini akan terus berulang.
Di sisi lain, penting untuk diakui bahwa dinamika politik memang memungkinkan terjadinya perubahan sikap. Dalam sistem demokrasi, setiap individu atau kelompok memiliki hak untuk menentukan posisi politiknya. Namun, perubahan tersebut seharusnya disertai dengan penjelasan yang terbuka dan rasional kepada publik.
