Perubahan ini tidak selalu disertai dengan penjelasan yang transparan kepada publik. Tidak ada refleksi terbuka mengenai sikap sebelumnya, tidak ada pertanggungjawaban moral atas dukungan yang pernah diberikan. Yang tampak hanyalah pergeseran posisi yang seolah-olah wajar, padahal menyisakan pertanyaan besar tentang konsistensi dan integritas.
Jika penjilat masih dapat dipahami sebagai pihak yang mencari kedekatan dengan kekuasaan melalui narasi, maka kutu loncat menunjukkan bentuk oportunisme yang lebih terbuka. Mereka tidak terikat pada satu kubu atau kelompok tertentu. Perpindahan posisi politik dilakukan secara cepat dan berulang, mengikuti arah yang dianggap paling menguntungkan.
Dalam praktiknya, kutu loncat sering muncul dalam berbagai momentum politik, terutama menjelang atau setelah pergantian kepemimpinan. Hari ini mereka berada di satu barisan, esok hari sudah berada di barisan lain, dan tidak jarang kembali lagi ke posisi sebelumnya ketika situasi berubah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa orientasi utama bukanlah pada nilai, ideologi, atau kepentingan publik, melainkan pada akses terhadap kekuasaan. Politik dipandang sebagai arena transaksi, bukan sebagai ruang pengabdian.
