Pihak sekolah, kata dia, langsung berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak penyedia makanan untuk menghentikan sementara penyaluran MBG di SDI Soe hingga ada hasil evaluasi resmi.
“Untuk sementara kami minta program MBG dihentikan dulu, supaya ada waktu untuk evaluasi menyeluruh terhadap penyedia maupun sistem pendistribusian,” tegasnya. “Kami tahu ini program baik pemerintah, tapi keselamatan anak-anak lebih utama.”
Yermia menambahkan, peristiwa ini menimbulkan trauma mendalam bagi siswa dan orang tua. Banyak orang tua yang kini merasa cemas ketika mendengar kata “MBG”. Ia berharap ada peninjauan ulang terhadap standar penyimpanan dan distribusi makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Orang tua pasti trauma, anak-anak juga trauma. Jadi kami berharap pemerintah daerah bersama pihak penyedia benar-benar memperhatikan aspek kebersihan dan ketepatan waktu. Kalau perlu, hentikan dulu sementara, evaluasi, baru lanjutkan setelah aman,” ujarnya.
Dari informasi yang dihimpun media ini, semua pasien korban keracunan telah dipulangkan setelah mendapat perawatan intensif di RSUD Soe. Tidak ada korban jiwa, meski jumlah korban di seluruh Kota Soe mencapai 384 orang, termasuk pelajar, guru, serta anak-anak PAUD dan TK dari berbagai sekolah.














