“Ketika pukul 11.00 WITA, mobil pengantar MBG baru tiba di sekolah. Kami langsung menyiapkan dan membagikan ke anak-anak,” jelasnya. “Sebelum dibagikan, tim sekolah sudah membuka paket makanan, namun mungkin karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat periksa dengan teliti.”
Adapun menu yang dikonsumsi hari itu terdiri dari nasi, soto ayam, bihun, tempe, dan semangka. Yermia mengaku, dirinya baru mengetahui dugaan awal penyebab keracunan setelah beberapa siswa mengeluhkan aroma yang tidak biasa.
“Saya tidak melihat langsung, tapi anak-anak bilang aroma sopnya seperti sudah agak basi. Karena sudah lapar dan menunggu lama, mereka tetap makan,” tutur Yermia dengan nada prihatin.
Tak lama setelah makan, beberapa siswa mulai menunjukkan gejala mual, pusing, dan muntah. Guru-guru kemudian segera mengevakuasi para siswa ke Puskesmas dan RSUD Soe untuk mendapatkan pertolongan medis.
“Total sekitar 40 siswa dari 166 murid kami yang mengalami gejala serupa. Dua guru yang ikut mencicipi makanan juga ikut keracunan,” ujar Yermia.














