Insentif Likuiditas Diperbesar
Bank Indonesia terus menggunakan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebagai instrumen untuk mendorong bank menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas.
Hingga minggu pertama Agustus 2026, insentif KLM yang diperoleh perbankan mencapai Rp446,5 triliun.
Dari jumlah tersebut, alokasi financing channel mencapai Rp368,4 triliun, interest rate channel Rp73,2 triliun, dan financing to funding channel Rp4,9 triliun.
Kebijakan ini memperlihatkan bahwa suku bunga acuan bukan satu-satunya instrumen yang digunakan BI untuk memengaruhi perekonomian.
Bank sentral juga berusaha memastikan likuiditas tersedia dan dapat mengalir ke sektor produktif.
Likuiditas Dijaga
Uang primer atau M0 pada Juli 2026 tumbuh 18,3 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut terutama dipengaruhi giro bank umum di Bank Indonesia yang tumbuh 22,4 persen dan uang kartal yang tumbuh 15,1 persen.
Sementara itu, uang beredar luas atau M2 pada Juni 2026 tumbuh 8,7 persen secara tahunan.
Bank Indonesia menyatakan pengelolaan likuiditas akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.














