Berita

Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

ketika-waisak-menjadi-gerakan-sosial-wajah-kepedulian-umat-buddha-di-kota-kupang
Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

KUPANG, RFC – Hari Raya Waisak sering dipahami sebagai perayaan spiritual umat Buddha. Namun di Kota Kupang, Waisak tahun 2570 BE hadir dengan makna yang lebih luas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Ia tidak berhenti di altar, doa, dan ritual keagamaan.

Waisak menjelma menjadi gerakan sosial yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Melalui berbagai kegiatan kemanusiaan yang digelar Perkumpulan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), semangat cinta kasih diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Donor darah, bakti sosial, aksi peduli lingkungan, hingga kunjungan ke panti sosial menjadi bagian dari rangkaian perayaan tahun ini.

Bagi Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan bahwa nilai agama memiliki daya hidup yang kuat ketika diwujudkan dalam tindakan konkret.

“Nilai agama harus hadir dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Pernyataan itu mencerminkan sebuah pandangan bahwa keberhasilan kehidupan beragama tidak hanya diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

Exit mobile version