Berita

Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

ketika-waisak-menjadi-gerakan-sosial-wajah-kepedulian-umat-buddha-di-kota-kupang
Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

Donor darah, misalnya, mungkin hanya berlangsung beberapa jam.

Namun darah yang disumbangkan bisa menjadi harapan hidup bagi orang lain.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Demikian pula aksi peduli lingkungan.

Kegiatan yang tampak sederhana itu sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat.

Ketua Permabudhi NTT, Indra Effendy, menjelaskan bahwa tema Waisak tahun ini adalah “Dharma Menjaga Kedamaian Dunia.”

Menurutnya, menjaga kedamaian tidak cukup dilakukan melalui doa.

Kedamaian harus dibangun melalui kepedulian sosial, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama.

Karena itu, umat Buddha diajak untuk aktif berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.

Bukan hanya untuk kepentingan komunitasnya sendiri, tetapi juga bagi seluruh warga Kota Kupang.

Semangat itu sejalan dengan identitas Kota Kupang sebagai Kota Kasih.

Sebuah kota yang tumbuh dari keberagaman dan dibangun oleh semangat persaudaraan.

Dalam acara tersebut hadir tokoh lintas agama, pemerintah daerah, FKUB, serta berbagai organisasi masyarakat.

Exit mobile version