Linda menegaskan bahwa pembangunan yang adil tidak boleh dibangun di atas pengorbanan ruang hidup masyarakat, terlebih perempuan. Kedaulatan negara, menurutnya, tidak dapat dipisahkan dari kedaulatan perempuan atas tanah, air, pangan, dan sumber-sumber kehidupan lainnya.
“Perempuan harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang didengar, diakui pengetahuannya, dan dilibatkan secara penuh dalam setiap proses pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka,” tegas Linda.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal menyelamatkan alam, tetapi juga memastikan hadirnya keadilan bagi mereka yang selama ini berada di garis depan merawat kehidupan. Di NTT, suara perempuan menjadi alarm yang terus berbunyi, mengingatkan bahwa masa depan lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari perjuangan mempertahankan ruang hidup, martabat, dan hak-hak masyarakat yang paling terdampak oleh krisis iklim.














