Pertama, memperkuat persaudaraan dan solidaritas untuk membangun organisasi yang solid, terbuka, dan berjalan bersama.
Kedua, mengembangkan kualitas dan potensi kader melalui kaderisasi yang aktif, kritis, dan berkelanjutan.
Ketiga, membangun organisasi yang progresif dan berdampak melalui program kerja yang nyata, kreatif, serta mampu menjawab kebutuhan Gereja dan masyarakat.
Grace menilai bahwa PMKRI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang aktif dalam kegiatan internal, tetapi harus mampu melahirkan kader-kader yang memiliki kepekaan sosial, daya kritis, serta keberanian untuk mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat.
Baginya, semangat fraternitas atau persaudaraan harus menjadi fondasi utama dalam membangun kepemimpinan yang inklusif dan menghindari sekat-sekat perbedaan di antara kader.
Ia juga berharap seluruh anggota PMKRI Cabang Malaka dapat kembali merapatkan barisan setelah proses pemilihan, sehingga perbedaan pilihan selama RUAC tidak menjadi penghalang untuk bersama-sama membangun organisasi.














