“Apakah harus menunggu korban jiwa terlebih dahulu baru ada tindakan nyata? Jangan sampai pemerintah hanya hadir setelah kejadian, tampil seolah menjadi pahlawan kesiangan, padahal akar persoalan adalah kelalaian itu sendiri,” lanjutnya.
Melfridus juga mengkritik alasan klasik yang kerap disampaikan pemerintah terkait kendala cuaca dalam pembangunan infrastruktur. Menurutnya, dalih tersebut tidak lagi relevan ketika keselamatan masyarakat menjadi taruhannya.
“Cuaca tidak bisa terus dijadikan kambing hitam. Yang patut dipertanyakan adalah keseriusan dan komitmen pemerintah dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut jembatan bambu yang dibangun oleh masyarakat sebagai simbol kepedulian rakyat terhadap diri mereka sendiri, namun sekaligus menjadi cerminan kegagalan pemerintah dalam menjalankan tanggung jawabnya.
“Jika hari ini baru satu korban yang jatuh, siapa yang bisa menjamin ke depan tidak ada korban jiwa? Infrastruktur bukan sekadar proyek, tetapi menyangkut keselamatan dan hak hidup warga,” tambahnya.














