Apakah aspirasi yang disampaikan mahasiswa saat aksi di depan gedung DPRD itu dianggap tidak penting? Ataukah suara mahasiswa hanya didengar ketika massa berdiri di jalan, lalu dilupakan setelah mereka kembali masuk ke dalam gedung,” ungkap Melfridus kepada Reformanews.com.
Ia juga menyindir keras sikap para wakil rakyat yang dinilai lamban merespons kebutuhan masyarakat, terutama terkait infrastruktur dasar seperti akses jalan menuju lembaga pendidikan.
“Jangan sampai karena terlalu lama duduk nyaman di dalam ruangan ber-AC, para wakil rakyat justru kehilangan kepekaan terhadap realitas di lapangan. Jangan sampai dinginnya ruangan membuat pikiran ikut membeku sehingga tidak lagi mampu berpikir dan memperjuangkan kebutuhan rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, BEM STISIP Fajar Timur Atambua menegaskan bahwa akses jalan menuju kampus bukan sekadar persoalan fasilitas semata, tetapi juga menyangkut kenyamanan, keselamatan, dan kelancaran aktivitas akademik mahasiswa maupun masyarakat di sekitar kampus.
