Jalan Tikus di Negeri Merdeka: Jeritan Warga Desa Lobus
TTS, Sudah hampir 80 tahun Indonesia merdeka, tetapi bagi warga Desa Lobus, Kecamatan Toianas, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, kemerdekaan itu belum pernah benar-benar terasa di atas tanah mereka sendiri. Jalan utama desa, satu-satunya akses keluar-masuk warga, masih berupa jalur berbatu, berlubang, dan licin saat hujan. Warga menyebutnya bukan jalan desa, melainkan “jalan tikus” atau “jalan sapi”.
Pantauan di lapangan, Kamis (1/1/2026), menunjukkan kondisi jalan yang memprihatinkan. Di sejumlah titik, kendaraan roda dua harus berjalan zigzag menghindari batu besar dan lubang. Mobil nyaris tak bisa melintas. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin yang membahayakan keselamatan warga.
“Sejak Indonesia merdeka, kami tidak pernah menikmati jalan aspal,” ujar Benyamin Tiumlafu, warga Desa Lobus.
Nada suaranya keras, menahan kekecewaan yang terpendam puluhan tahun. “Pemimpin ganti pemimpin, kami tetap jalan di batu. Seperti bukan bagian dari negara ini.”
Infrastruktur yang Tak Pernah Hadir, Jalan Tikus Jadi Prioritas
Bagi warga Lobus, buruknya akses jalan bukan sekadar soal kenyamanan. Ia adalah akar dari berbagai persoalan hidup: ekonomi mandek, layanan kesehatan sulit dijangkau, dan pendidikan anak-anak terganggu.














