Menurutnya, dinamika yang terjadi selama RUAC merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan organisasi. Perbedaan pandangan dan pilihan adalah hal yang wajar dalam proses demokrasi, bahkan menjadi kekayaan yang memperkuat kualitas kader serta kedewasaan organisasi.
Karena itu, ia mengajak seluruh kader, khususnya mereka yang terlibat dalam proses RUAC Istimewa, untuk mengakhiri segala perbedaan dan kembali bergandengan tangan membangun PMKRI dengan semangat fraternitas, persaudaraan, dan pelayanan.
“Perbedaan pendapat saat proses dinamika RUAC berjalan itu merupakan proses yang normal dan menjadi kekayaan organisasi. Untuk itu, saya mengajak kita semua, terutama yang berproses dalam RUAC Istimewa ini, mari kita bergandengan tangan dan bekerja bersama demi kemajuan organisasi ke depan,” ujar Simplysius, yang juga merupakan mantan Ketua BEM STISIP Fajar Timur Atambua.
Ia menegaskan, kepemimpinan PMKRI Cabang Atambua periode 2026–2027 harus menjadi momentum kebangkitan organisasi. Fokus utama kepengurusannya adalah memperkuat kaderisasi, membangun konsolidasi internal, serta meningkatkan peran PMKRI sebagai mitra kritis pemerintah, Gereja, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengawal pembangunan daerah.














