Nama Evi Seran kini kian disebut-sebut di tengah masyarakat. Bukan karena banyak bicara, tetapi karena langkahnya nyata. Ia hadir, mendengar, melihat, dan bergerak.
Di saat sebagian memilih diam di balik meja, perempuan ini memilih hadir di tengah rakyat.
Sebab sejatinya, wakil rakyat bukan mereka yang sekadar duduk manis di kursi empuk, tetapi mereka yang rela menginjak debu jalanan, mendengar suara-suara kecil, dan memperjuangkan harapan yang nyaris padam.
Dan di Forekmodok hari itu, Evi Seran kembali membuktikan bahwa pengabdian bukan lahir dari jabatan, melainkan dari keberanian untuk hadir dan berbuat. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling lama duduk di kursi kekuasaan, tetapi siapa yang paling tulus menyalakan cahaya bagi rakyatnya.
