Opini

Menggugat Kesetaraan Semu Alat Bukti: Urgensi Hierarki Epistemik dalam Peradilan Pidana Indonesia

Reporter: amor |  Editor: admin
Menggugat Kesetaraan Semu Alat Bukti: Urgensi Hierarki Epistemik dalam Peradilan Pidana Indonesia

Karena itu, kesaksian tidak cukup diuji hanya melalui sumpah.

Yang lebih penting adalah menguji:
Apakah keterangannya konsisten?
Apakah keterangannya independen?
Apakah didukung bukti lain?
Apakah sesuai dengan fakta objektif?
Apakah terdapat alasan yang rasional untuk mempercayainya?

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Di sinilah prinsip corroboration menjadi penting, yakni menguji suatu keterangan melalui bukti atau fakta independen lainnya.

Semakin berat konsekuensi pidana yang akan dijatuhkan, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kualitas pembuktiannya. Sebab, kesalahan tidak boleh dibangun atas dasar kemungkinan, melainkan harus bertumpu pada kepastian hukum yang rasional.

Bukti Ilmiah Harus Mendapat Tempat yang Proporsional
Kemajuan teknologi telah mengubah wajah pembuktian pidana. DNA, sidik jari, CCTV, metadata digital, rekaman komunikasi, analisis forensik, hingga bukti elektronik membuka peluang lebih besar untuk menemukan kebenaran.
Namun, bukti ilmiah pun bukan tanpa cela. Metode dapat keliru diterapkan, sampel dapat terkontaminasi, barang bukti dapat rusak, chain of custody dapat terganggu, bahkan ahli dapat berbeda pendapat.

Exit mobile version