Example floating
Example floating
Opini

Dalam Hening Nyepi, Menuju NTT Terang 2030: Ikhtiar Bahlil dan Melki

Avatar photo
×

Dalam Hening Nyepi, Menuju NTT Terang 2030: Ikhtiar Bahlil dan Melki

Sebarkan artikel ini
Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
Dalam Hening Nyepi, Menuju NTT Terang 2030: Ikhtiar Bahlil dan Melki
Dalam Hening Nyepi, Menuju NTT Terang 2030: Ikhtiar Bahlil dan Melki

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Di NTT, menuntaskan 4 persen terakhir bisa jauh lebih sulit daripada mencapai 96 persen sebelumnya. Biaya tinggi, akses terbatas, dan kondisi geografis menjadi tantangan nyata. Di sinilah komitmen pembangunan diuji.
Setidaknya ada tiga tantangan utama menuju “NTT Terang 2030”.

Pertama, jangkauan. Negara harus memastikan masyarakat di wilayah paling terpencil tidak terus menjadi yang terakhir. Pembangunan tidak boleh tunduk sepenuhnya pada efisiensi ekonomi, tetapi harus berpihak pada keadilan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Kedua, mutu akses. Listrik tidak cukup hanya tersedia, tetapi harus andal, terjangkau, dan benar-benar meningkatkan kualitas hidup. Ada perbedaan besar antara sekadar “teraliri listrik” dan “menikmati listrik secara layak”.

Baca Juga :  Pers Tidak Perlu Izin Pemda: Kemerdekaan yang Dijamin Undang-Undang

Ketiga, keberlanjutan. Banyak proyek energi di daerah terpencil menghadapi persoalan perawatan. Tanpa tata kelola yang baik, pembangunan berisiko menjadi proyek sesaat tanpa dampak jangka panjang.

Baca Juga :  Wabup TTS Tegaskan Penanganan Darurat Deker Ambruk di Ruas Fathoni–Lotas Harus Segera Dilaksanakan

Dalam konteks ini, energi baru terbarukan menjadi pilihan strategis. NTT memiliki potensi besar—matahari, angin, biomassa, dan sumber energi lainnya. Tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada tata kelola, teknologi yang tepat, dan keberlanjutan sistem.

Example floating