Padahal, jika kita menengok ke belakang, mahasiswa pernah menjadi kekuatan moral yang ditakuti. Mereka turun ke jalan, mengkritik kekuasaan, dan berdiri di barisan rakyat. Mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga membaca realitas di jalanan. Mereka tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga memperjuangkan keadilan.
Hari ini, semangat itu perlahan memudar. Kampus tidak lagi menjadi ruang dialektika yang hidup, melainkan ruang administratif yang kering. Diskusi kritis tergantikan oleh tugas formal. Organisasi mahasiswa kehilangan arah ideologis dan lebih sibuk pada kegiatan seremonial.
Dosen pun tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mereka juga berada dalam tekanan sistem yang sama: tuntutan publikasi, akreditasi, dan target institusi. Akibatnya, relasi antara dosen dan mahasiswa menjadi semakin mekanis.
Pendidikan kehilangan ruhnya sebagai proses pembentukan kesadaran.
Lalu, di mana posisi mahasiswa hari ini?
Apakah mereka benar-benar tidak sadar, atau justru memilih untuk tidak sadar?
Pertanyaan ini penting, karena masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh keberanian moral.
