Opini

Mahasiswa Apatis di Bawah Bayang Kapitalisme Kampus: Intelektual yang Kehilangan Arah

Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
Mahasiswa Apatis di Bawah Bayang Kapitalisme Kampus: Intelektual yang Kehilangan Arah
Mahasiswa Apatis di Bawah Bayang Kapitalisme Kampus: Intelektual yang Kehilangan Arah

Kampus hari ini tidak lagi berdiri sebagai ruang pembebasan. Ia telah bertransformasi menjadi mesin produksi tenaga kerja. Universitas diposisikan sebagai pabrik, dosen sebagai operator, dan mahasiswa sebagai bahan mentah yang harus diolah agar siap masuk ke dalam pasar kerja. Kurikulum disusun bukan untuk membangun kesadaran kritis, melainkan untuk memenuhi kebutuhan industri.

Dalam logika ini, mahasiswa tidak didorong untuk bertanya “mengapa sistem ini timpang?”, tetapi diarahkan untuk menjawab “bagaimana saya bisa sukses di dalam sistem ini?”.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Pendidikan direduksi menjadi sekadar alat mobilitas sosial—bukan lagi sarana pembebasan manusia dari penindasan struktural.

Lebih jauh lagi, kapitalisme kampus menciptakan ilusi yang sangat kuat: ilusi kebebasan.

Mahasiswa merasa mereka bebas memilih jurusan, bebas berpendapat, dan bebas mengekspresikan diri. Padahal, kebebasan itu telah dibingkai dalam batas-batas yang tidak mereka sadari. Mereka bebas, tetapi hanya sejauh tidak mengganggu stabilitas sistem.

Exit mobile version