“Pada hari ini, negara Indonesia secara resmi berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada pangan,” tegas Presiden. Namun, ia mengingatkan bahwa capaian ini harus disertai sikap waspada, keberanian mengoreksi diri, dan komitmen berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya nasional.
Presiden juga mengemukakan keprihatinannya atas pengelolaan kekayaan bangsa yang selama ini dinilai belum optimal. Menurutnya, masih terdapat kebocoran dan ketimpangan yang menyebabkan kekayaan negara belum sepenuhnya dirasakan rakyat. Dalam konteks pangan, ketergantungan pada impor dipandang sebagai ironi bagi negara dengan sumber daya alam yang melimpah.
Pesan tersebut memiliki makna strategis bagi NTT. Selama bertahun-tahun, wilayah ini kerap dikaitkan dengan kerentanan pangan akibat keterbatasan air dan kondisi agroklimat yang menantang. Namun, melalui penguatan kebijakan pertanian, dukungan irigasi, mekanisasi, serta pendampingan petani, NTT mulai menunjukkan pergeseran menuju kemandirian yang lebih kokoh.
