Malam Tanpa Gemerlap, Doa yang Menjadi Ujian Kehadiran Negara
Tapanuli Selatan, RFC – Di saat sebagian besar kota di Indonesia menyambut pergantian Tahun Baru 2026 dengan kembang api dan perayaan meriah, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto justru menghabiskan malam itu di lokasi terdampak bencana, duduk bersama warga, dan berdoa dalam suasana sederhana. Pilihan ini menghadirkan kontras yang kuat—antara hiruk-pikuk perayaan dan keheningan refleksi—serta membuka kembali pertanyaan lama tentang makna kehadiran negara di tengah krisis.
Tanpa panggung hiburan, tanpa hitung mundur penuh sorak, malam tahun baru tersebut diisi dengan kebersamaan yang hening namun sarat simbol. Presiden Prabowo hadir langsung di tengah masyarakat terdampak, berbaur tanpa jarak, menyapa anak-anak, berdialog dengan keluarga yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana, dan mengajak seluruh warga memanjatkan doa bersama.
Suasana sederhana itu justru menghadirkan kehangatan yang jarang ditemui dalam agenda resmi kenegaraan. Di antara lampu seadanya dan tenda-tenda darurat, doa menjadi bahasa bersama—bahasa pengharapan, keteguhan, sekaligus penyerahan diri di tengah keterbatasan.
