Malam itu, pergantian tahun diwarnai bukan oleh gemerlap cahaya, melainkan oleh keheningan yang penuh makna. Di lokasi terdampak bencana, doa menjadi penanda awal tahun—sekaligus penanda bahwa harapan tidak pernah sepenuhnya padam, selama negara dan rakyat masih saling menatap dan berjalan bersama.
Ketika kalender berganti ke 2026, warga membawa pulang lebih dari sekadar ucapan Tahun Baru. Mereka membawa keyakinan bahwa pemerintah hadir mendampingi, dan bahwa pemulihan bukan hanya soal membangun kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga meneguhkan jiwa yang sempat goyah.
Bagi Presiden Prabowo, malam itu menjadi pernyataan simbolik: bahwa kepemimpinan, pada saat-saat tertentu, tidak selalu ditunjukkan lewat pidato megah atau perayaan besar, melainkan lewat kesediaan duduk bersama rakyat dalam doa dan kesederhanaan. Bagi publik, momen tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa doa dan kehadiran negara adalah awal—bukan akhir—dari tanggung jawab pemulihan yang harus terus dikawal.
