BPJS Kesehatan juga mendorong perubahan indikator monitoring mutu penjaminan pelayanan intervensi jantung. Pengukuran tidak hanya berfokus pada proses, tetapi diarahkan pada indikator outcome.
Indikator tersebut antara lain mencakup waktu tanggap kritis, keselamatan pascatindakan, akurasi intervensi, kualitas pemulihan, kepatuhan terhadap protokol, serta efisiensi sistem rujukan.
“Kita ingin mengubah paradigma dari paying for services menjadi purchasing better outcomes, dari treating events menjadi preventing events, serta dari mengukur utilisasi menjadi mengukur outcome,” ujar Pujo.
RS Dustira Layani 975 Pasien Cathlab
Gambaran kebutuhan pelayanan jantung juga terlihat di Rumah Sakit Tingkat II Dustira.
Kepala RS Tingkat II Dustira, Muchlas Fahmi, mengatakan pihaknya terus meningkatkan kualitas layanan penyakit jantung dan berbagai layanan pendukungnya, termasuk bagi peserta JKN.
Menurut Muchlas, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, RS Dustira telah melayani 975 pasien cathlab. Seluruh pasien tersebut merupakan peserta JKN.
