Hukum Kriminal

Ketika Domino Disamakan dengan Judi: Polemik PORDI dan Kekeliruan Perspektif Kebijakan

Reporter: Gus Din |  Editor: Redaksi
ketika-domino-disamakan-dengan-judi-polemik-pordi-dan-kekeliruan-perspektif-kebijakan

“Struktur organisasinya jelas, aturannya jelas, tujuannya jelas. Bahkan sedang disiapkan atlet, wasit, dan juri bersertifikasi. Menyamakan ini dengan judi seperti qiu-qiu atau permainan kartu liar jelas keliru,” kata Bayu.

Ruang Prestasi yang Terancam Stigma
Turnamen perdana Pengda PORDI Gorontalo diikuti lintas lapisan sosial: pejabat publik, anggota legislatif, akademisi, pengusaha, pedagang UMKM, hingga masyarakat marginal.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Ini, menurut Bayu, justru menunjukkan karakter domino sebagai olahraga rakyat yang inklusif.
Ke depan, Pengda PORDI Gorontalo bahkan merancang pembinaan sejak usia dini—anak 10 tahun hingga remaja 17 tahun ke atas—untuk menjaring bibit atlet yang kelak bisa mewakili Gorontalo di tingkat nasional, PON, bahkan Asia Games.

“Kalau stigma judi terus dipakai, maka peluang prestasi akan mati sebelum tumbuh,” ujarnya.

Dalam sejarahnya, PORDI memang didirikan untuk mengoreksi stigma lama yang melekat pada domino. Organisasi ini ingin menempatkan domino sejajar dengan catur atau bridge—permainan berbasis strategi yang diakui sebagai olahraga.

Exit mobile version