“Dia pergi begitu saja. Tidak kirim nafkah, tidak tanya anak, tidak ada tanggung jawab,” ungkap salah satu anggota keluarga saat ditemui media di Klatun, Desa Bisesmus, Kecamatan Laenmanen, Rabu (3/12/2025).
Keluarga besar Mawar mengaku telah berupaya keras membujuk FPP untuk kembali, baik melalui komunikasi langsung maupun berkoordinasi dengan keluarga laki-laki. Namun, seluruh upaya itu ditolak mentah-mentah. “Semua rayuan dan ajakan pulang ditolak. Dia tidak mau kembali, alasannya tidak jelas,” tambahnya.
Tidak ingin masalah berlarut-larut, keluarga Mawar membawa persoalan ini ke pemerintah desa untuk dilakukan mediasi sesuai adat setempat. Namun sayangnya, hasil mediasi justru jauh dari harapan. Bukan hanya gagal memberikan solusi, tetapi juga menimbulkan tanda tanya besar.
Menurut keluarga korban, FPP terlihat bersikap semakin keras dan menolak berbagai bentuk penyelesaian. Kondisi ini memunculkan kecurigaan bahwa ada keberpihakan dari aparat desa.
“Kami curiga ada oknum kades yang memback-up. FPP sejak pergi tinggal dengan oknum kades itu. Jadi mediasi seperti tidak berimbang,” terang salah satu anggota keluarga.
