Beruntung, BUMDes Hidup Baru telah menjalin kemitraan dengan SPPG Taaba, sehingga sebagian hasil produksi memiliki jalur pemasaran.
Namun, Iwan berharap dukungan pemerintah tidak hanya berhenti pada program usaha, tetapi juga menyentuh kebutuhan sarana pendukung.
“Kami berharap ada bantuan dari instansi terkait atau dari Kementerian Desa. Bukan mobil, tetapi setidaknya motor roda tiga. Dengan itu kami bisa membawa telur ke pasar, mencari pembeli, sekaligus mengangkut pakan,” katanya.
Bagi Iwan, motor roda tiga bukan sekadar kendaraan, tetapi menjadi sarana penting untuk menggerakkan usaha. Dengan kendaraan tersebut, BUMDes bisa lebih aktif mendistribusikan telur, mencari pasar baru, sekaligus memenuhi kebutuhan pakan tanpa terlalu bergantung pada pembeli yang datang ke lokasi.
Produksi sudah mencapai 300 butir per hari. Kemitraan sudah terbentuk. Potensi pasar pun terbuka. Kini BUMDes Hidup Baru hanya membutuhkan satu dorongan penting: sarana transportasi agar telur tidak hanya menumpuk di kandang, tetapi bisa bergerak dari desa menuju pasar dan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.














