Namun setelah jembatan berdiri, satu pesan menjadi sangat penting: jangan hanya merayakan pembangunannya, tetapi rawatlah agar manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi.
Empat penjaga yang akan berdiri di dua sisi jembatan kelak bukan sekadar menjaga besi, kabel dan lantai jembatan.
Mereka menjaga sebuah harapan. Mereka menjaga hasil pembangunan. Dan mereka menjaga sebuah warisan agar tetap dapat dilalui anak-anak Nunbei dan Kakaniuk hingga anak cucu mereka nanti.
Hari ini, ketika Uskup Atambua, Pastor Deken Malaka dan sejumlah pastor hadir membawa doa serta berkat, masyarakat Nunbei dan Kakaniuk seakan menerima pesan yang sama: setiap pembangunan yang lahir dari harapan harus dirawat dengan tanggung jawab dan disyukuri dengan iman.
Di bawah berkat Gereja dan di tengah sukacita masyarakat, Jembatan Gantung Nunbei menjadi simbol bahwa pembangunan tidak boleh meninggalkan siapa pun.
Sebab bagi masyarakat kecil, sebuah jembatan bukan sekadar besi, kabel dan lantai yang membentang di atas sungai.
Ia adalah jalan menuju harapan. Ia adalah tanda bahwa negara hadir. Dan bagi Nunbei, ia adalah jawaban atas sebuah rindu yang telah lama menunggu.














