Bagi masyarakat Desa Fatoin, irigasi bukan sekadar proyek fisik, melainkan infrastruktur penentu nasib produksi pangan. Dengan ketersediaan air yang lebih stabil, petani tidak lagi sepenuhnya terikat pada siklus musim. Pola tanam dapat diatur lebih terencana, risiko gagal panen berkurang, dan peluang meningkatkan indeks pertanaman terbuka lebar.
Dalam konteks desa yang selama ini tergolong tertinggal, kehadiran saluran irigasi sepanjang 850 meter membawa makna simbolik sekaligus praktis: negara hadir dan menyentuh kebutuhan paling dasar petani.
“Dengan adanya saluran ini, kami berharap hasil pertanian meningkat dan penyediaan air menjadi optimal,” tambah Kades Nur.
Apresiasi tidak hanya datang dari pemerintah desa. Angelbertus Kiik, salah satu warga Fatoin, mengungkapkan kegembiraannya atas pembangunan tersebut. Ia menyebut SBS–HMS sebagai pemimpin yang memahami kebutuhan rakyat.
“Kampung kami ini paling terbelakang, tapi kami mendapatkan pembangunan. Ini bukti bahwa pemerintah tidak membeda-bedakan,” katanya.














