Hasil bumi seperti jagung, kemiri, dan hasil ternak sering kali gagal dijual ke pasar kecamatan atau kabupaten karena biaya angkut terlalu mahal. Pedagang dari luar enggan masuk karena risiko kendaraan rusak. Akibatnya, warga hanya menjual hasil panen dalam skala kecil, dengan harga jauh di bawah pasaran.
“Kalau jalan bagus, pembeli bisa masuk. Sekarang, jangankan mobil, motor saja susah,” kata Benyamin.
Kemerdekaan yang Tak Merata
Keluhan serupa disampaikan Oktovianus Nabu, warga lainnya. Ia menilai ketimpangan pembangunan antarwilayah di TTS sangat nyata.
“Kami ini seperti hidup di pinggir sejarah. Pembangunan selalu berhenti sebelum sampai ke desa kami,” ujarnya.
Menurut Oktovianus, jalan rusak membuat desa terisolasi secara sosial dan ekonomi. Warga kesulitan mengakses layanan kesehatan darurat. Anak-anak sekolah harus berjalan kaki jauh melewati jalan rusak. Ketika ada warga sakit parah, perjalanan ke fasilitas kesehatan menjadi pertaruhan nyawa.
“Kami tidak minta mewah. Kami hanya minta jalan layak,” katanya.
