Janji Pembangunan yang Berulang.
Warga mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten. Namun, yang mereka terima hampir selalu sama: janji akan diusulkan, janji akan diprioritaskan, janji akan dibangun.
“Setiap tahun selalu masuk daftar usulan. Tapi setiap tahun juga tidak pernah terealisasi,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Situasi ini memunculkan rasa apatis. Bagi warga Lobus, pembangunan terasa seperti wacana elitis yang hanya hidup di dokumen perencanaan, bukan di lapangan.
Dewan Diminta Turun ke Lapangan
Warga mendesak anggota DPRD, baik tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk turun langsung melihat kondisi jalan. Mereka ingin para wakil rakyat merasakan sendiri bagaimana sulitnya akses menuju Desa Lobus.
“Kalau mereka datang dan rasakan sendiri, mungkin baru paham penderitaan kami,” kata Oktovianus.
Seruan ini bukan tanpa alasan. Banyak kebijakan infrastruktur disusun tanpa kunjungan lapangan yang memadai. Jalan desa kerap kalah prioritas dibanding proyek-proyek besar yang lebih mudah dipamerkan secara politis.
