Dalam video yang beredar, Tiyo tampil kritis dengan mempertanyakan dasar penunjukan Nanik yang dikenal sebagai mantan wartawan dan pernah menjadi bagian dari tim sukses politik. Menurutnya, jabatan strategis yang berkaitan dengan program gizi nasional membutuhkan figur yang memiliki kompetensi kuat dan integritas yang tidak diragukan.
Dalam forum tersebut, Tiyo menegaskan bahwa pejabat publik semestinya memenuhi dua syarat utama, yakni kompetensi dan moralitas. Ia menilai pengangkatan Nanik justru memperlihatkan kecenderungan bahwa loyalitas politik lebih diprioritaskan dibanding dua aspek tersebut.
“Jadi kita sebenarnya sudah dihadapkan pada situasi di mana syarat pejabat itu ada dua, kompetensi dan moralitas. Tetapi di zamannya Pak Prabowo, kompetensinya tidak ada, moralitasnya tidak ada, yang penting loyalitasnya,” ujar Tiyo.
Ia kemudian mempertanyakan keterkaitan latar belakang jurnalistik Nanik dengan tugas memimpin lembaga yang bertanggung jawab atas program gizi nasional.
Pernyataan itu langsung ditanggapi Astrio Feligent yang mempertanyakan apakah Tiyo menganggap seorang wartawan tidak memiliki kompetensi untuk menduduki jabatan publik.














